JAGOBERITA.ID, SUMENEP – Pembukaan Haul ke-48 pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatut Thalibin, KH Abdul Mannan, berlangsung khidmat di Rembang, Pragaan Daya, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Sabtu (2/5/2026).
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda rutin tahunan, tetapi juga momentum penting untuk mengenang jasa sekaligus meneguhkan nilai-nilai perjuangan dan pengabdian almarhum dalam bidang pendidikan dan keagamaan.
Ketua panitia, Muhawi Ismail, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan secara matang dengan melibatkan panitia, alumni, serta masyarakat.
“Untuk menyukseskan haul ke-48 ini, kami melakukan sosialisasi secara luas agar seluruh elemen, baik alumni, santri, maupun masyarakat, dapat hadir bersama mendoakan beliau,” ujarnya.
Ia menegaskan, sosok KH Abdul Mannan merupakan figur ulama yang layak dikenang dan diteladani oleh generasi saat ini.
“Haul ini bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan beliau dalam membangun pendidikan dan membina umat,” imbuhnya.
Muhawi menambahkan, tema Merawat Jejak Pengabdian yang diusung tahun ini menjadi pembeda sekaligus penguat arah kegiatan.
“Kami ingin nilai-nilai pendidikan yang beliau tinggalkan terus dirawat. Harapannya, alumni dan masyarakat bisa meneladani serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Ponpes Hidayatut Thalibin, KH Naufal Mannan, menyebut haul tahun ini sebagai momentum strategis untuk mempererat hubungan seluruh elemen pesantren.
“Ini kesempatan untuk memperkuat silaturahmi antara yayasan, keluarga besar pesantren, santri, alumni, dan masyarakat. Sekaligus menjadi ladang pengabdian bagi kita semua,” ungkapnya.
Ia menekankan, nilai haul harus melampaui seremoni dan terus dilanjutkan oleh generasi penerus.
“Semangat ini tidak boleh berhenti di acara seremonial. Para santri dan alumni harus terus merajut serta melanjutkan pengabdian sebagai pewaris perjuangan para pendahulu,” tegasnya.
Lebih lanjut, KH Naufal Mannan memaparkan sejumlah nilai utama yang diwariskan KH Abdul Mannan, terutama dalam aspek moralitas, spiritualitas, dan pengabdian.
“Beliau selalu mendahulukan moral dan spiritual dibandingkan intelektual semata. Selain itu, beliau mengajarkan pengabdian tanpa batas dengan prinsip khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama,” paparnya.
Menurutnya, metode pendidikan yang diajarkan tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu, tetapi juga pada implementasi dalam kehidupan nyata.
“Pendidikan itu bukan hanya soal mengetahui, tetapi juga mengamalkan. Tujuannya adalah membentuk pribadi yang utuh, santri yang total, muslim yang total, hingga pengelola lembaga yang total,” tambahnya.
Ia menegaskan, nilai-nilai tersebut menjadi warisan penting yang akan terus dijaga dan dikembangkan melalui program-program yayasan ke depan.
“Ini adalah warisan besar yang harus kita lanjutkan. Nilai perjuangan dan pendidikan beliau akan terus kami implementasikan dalam berbagai program,” pungkasnya.
Haul ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang mengenang, tetapi juga memperkuat komitmen bersama dalam melanjutkan perjuangan KH Abdul Mannan, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. (Che)


















