JAGOBERITA.ID, SUMENEP – Upaya mencetak generasi pesepak bola muda di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mulai dibangun dari tingkat sekolah dasar.
Sebanyak 23 tim SD ambil bagian dalam turnamen mini soccer U-13 yang digelar di Stadion Ahmad Yani Sumenep, Kamis (1/10/2026).
Turnamen tersebut dibuka langsung Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo. Namun, kompetisi ini tidak semata-mata berorientasi pada perebutan juara, melainkan menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Sumenep membangun pembinaan sepak bola usia dini secara bertahap dan berkelanjutan.
Achmad Fauzi mengatakan, usia sekolah dasar merupakan fase penting untuk membentuk kemampuan sekaligus karakter anak dalam olahraga sepak bola.
Menurutnya, potensi pemain muda tidak cukup hanya ditemukan melalui sebuah pertandingan. Talenta yang muncul perlu dipantau dan diberikan ruang pembinaan agar dapat berkembang sesuai usia serta kemampuannya.
“Mini soccer ini bukan hanya sekadar siapa yang menang, siapa yang mencetak gol atau siapa yang menjadi juara. Ini bagian dari proses pembinaan generasi muda melalui olahraga sepak bola,” ujarnya.
Ia meminta seluruh peserta menjadikan turnamen tersebut sebagai pengalaman untuk mengasah kemampuan. Menurutnya, menang atau kalah bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dalam kompetisi usia dini.
“Jangan takut kalah. Yang paling penting berani bermain, berani berusaha dan terus belajar menjadi lebih baik,” katanya.
Bupati juga mengingatkan para pemain untuk menjunjung tinggi sportivitas selama pertandingan. Ia meminta peserta tidak mudah terpancing emosi maupun melakukan tindakan yang dapat memicu gesekan di lapangan.
“Jangan ada gesekan, jangan ada perkelahian. Ini sepak bola,” tegasnya.
Fauzi menjelaskan, Pemkab Sumenep ingin pembinaan sepak bola dilakukan dengan pola yang lebih terarah dan berjenjang. Karena itu, kompetisi kelompok usia U-13 diharapkan menjadi salah satu tahapan awal sebelum para pemain melanjutkan pembinaan ke kelompok usia yang lebih tinggi.
“Pemerintah daerah berpikir serius bagaimana generasi muda dari U-13 ini bisa menjadi bibit yang berpotensi menjadi atlet sepak bola dan ke depannya dapat diandalkan,” ungkapnya.
Menurut Fauzi, kemampuan teknis dan karakter pemain perlu dibentuk sejak usia dini. Tanpa pembinaan yang dimulai dari tingkat sekolah dasar, potensi pemain akan lebih sulit dikembangkan secara optimal.
“Kalau tidak kita persiapkan dari tingkat SD, kemampuan dan karakter dalam bermain agak sulit dibentuk. Tahun ini kita coba jenjang dari mini soccer U-13 sampai U-17,” pungkasnya.
Turnamen mini soccer U-13 tersebut berlangsung selama tiga hari hingga babak final. Sebanyak 23 tim yang berasal dari Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) jenjang SD se-Kabupaten Sumenep turut ambil bagian.
Selain menjadi ajang kompetisi, turnamen ini menjadi ruang bagi para pemain muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding. Di sisi lain, kompetisi tersebut juga dapat menjadi sarana bagi pembina dan pemerintah daerah untuk melihat potensi atlet sepak bola sejak usia dini.
Dengan demikian, turnamen U-13 tidak hanya berbicara tentang perebutan trofi. Ajang tersebut menjadi salah satu langkah awal dalam membangun sistem regenerasi sepak bola Sumenep yang lebih terarah dan berkelanjutan. (Che/MF)
