banner 728x250
Berita  

IWO Sumenep Bekali Mahasiswa UPI dengan Pemahaman Etika Jurnalistik di Era Gempuran AI

banner 120x600
banner 468x60

JAGOBERITA.ID, SUMENEP – Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Sumenep menggelar Seminar Jurnalistik bertema “Relevansi Etika Jurnalistik di Tengah Gempuran AI” di Graha Kemahasiswaan Universitas PGRI (UPI) Sumenep, Madura, Jawa Timur, Rabu (28/10/2026).

Seminar ini menjadi ruang diskusi untuk memperkuat pemahaman tentang pentingnya etika, akurasi, dan tanggung jawab wartawan di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

banner 325x300

Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber dari kalangan profesional dan akademisi, yakni jurnalis senior Ibnu Hajar dan akademisi Mohammad Suhaidi. Pelaksanaannya juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Sumenep dan kalangan perguruan tinggi karena dinilai relevan dengan tantangan dunia jurnalistik di era digital.

Ketua Pengurus Daerah (PD) IWO Sumenep, Imam Mustain R, mengatakan perkembangan AI telah membawa perubahan besar dalam proses produksi dan penyebaran informasi. Teknologi ini dapat membantu mempercepat pekerjaan jurnalistik, tetapi penggunaannya tetap harus berpedoman pada etika dan profesionalisme pers.

Menurut Imam, kecepatan dalam memproduksi berita tidak boleh mengorbankan proses verifikasi, keberimbangan informasi, maupun tanggung jawab wartawan kepada masyarakat.

“AI bisa membantu wartawan bekerja lebih cepat, tetapi kebenaran, keberimbangan, dan hati nurani tidak bisa diserahkan begitu saja kepada mesin. Wartawan tetap harus melakukan verifikasi, memastikan informasi yang disampaikan akurat, serta mempertanggungjawabkan setiap karya jurnalistiknya kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tema seminar tersebut dipilih karena pemanfaatan AI semakin meluas di berbagai bidang, termasuk penulisan, pengolahan data, dan produksi konten digital.

Kondisi tersebut menuntut insan pers untuk semakin cermat dalam memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar jurnalistik.

Imam berharap seminar ini dapat memberikan pemahaman lebih mendalam kepada peserta, khususnya mahasiswa, mengenai tantangan sekaligus peluang pemanfaatan AI dalam dunia pers.

“Kami ingin peserta memahami bahwa menjadi wartawan bukan sekadar mampu menulis dan menyebarkan informasi. Ada etika, tanggung jawab, dan kepentingan publik yang harus dijaga. Harapannya, generasi jurnalis mendatang mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi tetap menjadikan integritas sebagai pegangan utama,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor UPI Sumenep, Asmuni, melalui Wakil Rektor II, M. Ridwan, menyambut positif penyelenggaraan seminar yang diinisiasi IWO Sumenep tersebut.

Menurutnya, kegiatan semacam ini penting untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai praktik jurnalistik sekaligus meningkatkan kesadaran dalam menyaring informasi di tengah derasnya arus informasi digital.

Ia berharap materi yang disampaikan para narasumber dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memahami proses produksi informasi yang bertanggung jawab serta membangun sikap kritis dalam menerima maupun menyebarkan berita.

“Seminar ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan tentang dunia jurnalistik, terutama dalam memahami pentingnya etika di tengah perkembangan teknologi AI. Kemudahan memperoleh dan memproduksi informasi harus diimbangi dengan sikap kritis, kehati-hatian, serta tanggung jawab agar informasi yang diterima dan disebarkan kepada masyarakat tetap berkualitas,” jelasnya.

Dukungan serupa disampaikan Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM), Dedy Falahuddin.

Ia menilai pemanfaatan AI dapat meningkatkan efisiensi pekerjaan, termasuk dalam bidang jurnalistik. Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap membutuhkan pengawasan dan penilaian manusia agar informasi yang dihasilkan tidak menyesatkan atau kehilangan konteks.

“AI memang memudahkan dan mempercepat pekerjaan. Namun, bukan berarti kita harus bergantung sepenuhnya pada teknologi tersebut. Kemampuan untuk menyaring informasi, memeriksa kebenarannya, dan menggunakan hati nurani tetap harus diasah. Konten yang dihasilkan AI pun perlu diperiksa agar informasi yang disampaikan benar-benar aktual, akurat, dan tidak bias,” tandasnya.

Dedy juga mengingatkan peserta agar memanfaatkan seminar tersebut untuk aktif berdiskusi dan menggali pengetahuan dari para narasumber yang memiliki pengalaman serta kompetensi di bidang jurnalistik dan akademik.

Menurutnya, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

“Untuk menghasilkan karya jurnalistik yang baik, kita juga membutuhkan hati nurani karena kita bukan robot. Teknologi boleh berkembang, tetapi tanggung jawab dan pertimbangan manusia harus tetap menjadi bagian penting dalam setiap proses penyampaian informasi kepada masyarakat,” pungkasnya.

Melalui seminar jurnalistik ini, IWO Sumenep berharap insan pers dan kalangan akademisi semakin memahami pentingnya menjaga standar etika jurnalistik di tengah perkembangan AI.

Kolaborasi antara organisasi profesi, perguruan tinggi, dan pemerintah diharapkan mampu memperkuat literasi informasi sekaligus mendorong lahirnya karya jurnalistik yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. (Che/MF)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *