JAGOBERITA.ID, SOSIAL – Di tengah riuh dinamika politik nasional, Hj. Ansari memilih menapaki jalan pengabdian dengan kesederhanaan dan ketulusan.
Bagi politisi perempuan asal Madura ini, politik bukan panggung kekuasaan, melainkan ikhtiar panjang menghadirkan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan rakyat kecil.
Bergabung dan berjuang melalui PDI Perjuangan, perempuan kelahiran Pamekasan tersebut dikenal dekat dengan masyarakat.
Ia hadir menyapa warga hingga ke pelosok, mendengarkan suara ibu-ibu, petani, pedagang kecil, dan generasi muda, karena baginya, aspirasi rakyat tak cukup didengar di ruang rapat, tetapi harus dirasakan langsung denyut kehidupannya.
“Bagi kami, PDI Perjuangan bukan sekadar kendaraan politik, melainkan rumah perjuangan. Di sanalah nilai gotong royong, keadilan sosial, dan keberpihakan pada wong cilik ditanamkan dan diwujudkan dalam kebijakan nyata,” katanya, Jumat (9/1/2026).
Prinsip itu pula yang mengiringi langkahnya sebagai istri Ketua DPC PDI Perjuangan Pamekasan, Taufadi. Sejak dilantik sebagai anggota DPR RI pada 1 Oktober 2024 lalu, Hj. Ansari aktif mendorong program-program yang berpihak pada masyarakat bawah, mulai dari akses pendidikan dan layanan kesehatan hingga penguatan ekonomi kerakyatan.
Ia kerap turun langsung memastikan bantuan sosial tepat sasaran, menjadi jembatan aspirasi warga dengan pemerintah, serta mengawal kebijakan agar menjawab kebutuhan riil di lapangan.
“Bagi kami, kesejahteraan rakyat bukan jargon politik, melainkan amanah yang harus diperjuangkan dengan kerja nyata dan konsistensi,” ujarnya.
Jejak pengabdian itu berangkat dari fondasi pendidikan dan nilai keagamaan yang kuat. Hj. Ansari merupakan alumni STAIN Pamekasan dan pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Putri 1 al-Amin Prenduan Pragaan Sumenep. Latar tersebut membentuk kepekaan sosial sekaligus keteguhan sikapnya dalam berpolitik.
Di parlemen, Hj. Ansari mengemban amanah sebagai anggota Komisi VIII DPR RI, bermitra dengan berbagai kementerian dan lembaga, antara lain Kementerian Agama RI, Kementerian Sosial RI, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, BNPB, BAZNAS, BPKH, dan BPJPH.
Dalam lebih dari setahun pengabdian, mantan aktivis PMII ini menjalankan beragam program di empat kabupaten Madura, Bangkalan, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep.
Mulai dari sosialisasi pengelolaan Dana Haji bersama BPKH, “Ngobrol Pendidikan Islam” dengan Kementerian Agama, “Jagong Masalah Haji dan Umrah”, bimbingan masyarakat Islam, hingga sertifikasi produk halal.
Sebagai Anggota MPR RI 2024-2029, ia juga aktif mensosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan dan berbagai regulasi yang relevan bagi masyarakat.
Tak hanya sosialisasi, Hj. Ansari turut menyalurkan bantuan konkret: program ATENSI dari Kemensos (kursi roda, kaki palsu, alat bantu dengar), Rumah Sejahtera Terpadu, peningkatan infrastruktur desa, dukungan bagi pekerja seni, hingga pemberdayaan KPM PKH.
Dari Kementerian Agama RI, ia mengawal beasiswa PIP untuk santri dan siswa, KIP untuk mahasiswa PTKIN dan swasta, inkubasi bisnis pesantren, renovasi masjid dan musala, serta bantuan Al-Qur’an.
Melalui BPKH dan BAZNAS, ia membantu pengeboran air bersih, renovasi madrasah, bantuan ternak, dan paket sembako bagi warga yang membutuhkan.
Kedekatan, keterbukaan, dan konsistensi menjadikan Hj. Ansari mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat. Tantangan dan kritik ia terima sebagai bagian dari proses, sekaligus penguat langkah.
“Selama niat kita tulus untuk rakyat, kita tidak boleh lelah,” ujarnya, dengan penuh senyuman.
Dengan langkah-langkah kecil namun konsisten, Hj. Ansari terus bergerak—mendengar, hadir, dan berjuang bersama rakyat. Ia percaya, perubahan besar selalu berawal dari kepedulian yang sederhana, dan kesejahteraan sejati hanya lahir dari politik yang membumi dan berdampak nyata. (Che)
*


















